Tulisan ini sengaja saya buat untuk merangkum apa yang sedang saya pelajari.
Baru-baru ini saya sedang mempelajari Strategic Problem Solving and Business Analysis dari Udemy. Seperti biasa, setiap gajian saya coba menyisihkan sedikit alokasi untuk pengembangan diri, entah itu dibelikan buku, kursus, atau kelas online.
Untuk kali ini, pilihannya jatuh ke kelas di Udemy karena saya merasa materinya cukup relevan dengan pekerjaan sehari-hari. Minimal bisa menambah pengetahuan baru, syukur-syukur kalau nanti benar-benar kepakai di pekerjaan.
Dua bagian awal yang saya pelajari adalah Start Here, Consulting Mindset and Learning Path dan Consulting Fundamentals, Firms, Work and Career Paths.
Sebetulnya kelas ini cukup condong ke dunia consulting. Jadi di bagian awal, pembahasannya belum langsung masuk ke teknik problem solving atau business analysis secara mendalam. Materinya lebih banyak membahas cara berpikir seorang konsultan, jenis-jenis consulting, jalur kariernya, dan gambaran pekerjaan sehari-hari.
Karena dua section ini masih bersifat pengantar dan durasinya juga tidak terlalu panjang, saya satukan saja dalam satu tulisan ini. Ya, sekalian jadi catatan belajar pertama juga, hehe.
Hal pertama yang cukup menarik buat saya adalah pola kerja dalam management consulting. Secara garis besar, seorang konsultan biasanya mulai dari memahami masalah, menyusun masalah itu supaya lebih jelas, menguji hipotesis menggunakan data dan bukti, lalu memberikan rekomendasi yang bisa membantu klien mengambil keputusan.
Kelihatannya sederhana, tapi sepertinya tidak sesederhana itu ketika dikerjakan di dunia nyata. Karena masalah bisnis biasanya tidak datang dalam bentuk yang rapi. Kadang datanya berantakan, konteksnya belum jelas, stakeholder-nya banyak, dan setiap orang bisa punya pandangan yang berbeda terhadap masalah yang sama.
Selain kemampuan analisis, konsultan juga perlu memahami industri dan konteks bisnis klien. Informasinya bisa datang dari laporan industri, laporan keuangan perusahaan, riset analis, publikasi bisnis, knowledge management internal, sampai pengalaman rekan kerja yang pernah menangani proyek serupa.
Di materi ini juga dijelaskan bahwa management consulting punya beberapa jenis, seperti strategy consulting, accounting consulting, IT consulting, boutique consulting, internal consulting, dan independent consulting.
Dari sini saya baru sadar bahwa dunia consulting ternyata luas sekali. Sebelumnya saya kira consulting itu ya sekadar membantu perusahaan mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Ternyata di dalamnya ada banyak cabang, dan masing-masing punya fokus yang berbeda.
Bagian lain yang cukup menempel buat saya adalah istilah so what.
Jadi ketika menampilkan data, seorang konsultan tidak cukup hanya menunjukkan angka. Ia juga harus bisa menjelaskan makna dari angka itu dan apa dampaknya bagi bisnis klien.
Di salah satu contoh materi, ada konsultan yang sedang meeting dengan CEO klien. Saat salah satu grafik performa ditampilkan, CEO mempertanyakan apakah peningkatannya benar-benar sebesar itu. Konsultan yang membuat analisis akhirnya harus menjelaskan angka tersebut dengan tenang dan detail.
Dari sini saya belajar bahwa membuat analisis saja tidak cukup. Kita juga harus benar-benar paham dengan data yang kita tampilkan, karena sewaktu-waktu data itu bisa dipertanyakan langsung oleh orang yang mengambil keputusan.
Menariknya lagi, pekerjaan consulting juga tidak selalu lurus dan rapi. Scope proyek bisa berubah setelah meeting, data bisa datang dalam kondisi berantakan, dan rekomendasi bisa ikut berubah mengikuti konteks baru.
Dari dua section awal ini, saya menangkap bahwa consulting membutuhkan kombinasi kemampuan yang cukup luas. Ada kemampuan membaca data, menyusun presentasi, berkomunikasi, dan memahami arti dari temuan yang muncul.
Buat saya pribadi, bagian paling menarik bukan hanya tentang jenis-jenis consulting atau nama-nama firm besar. Tapi tentang cara berpikirnya.
Bagaimana sebuah masalah perlu dipahami dulu dengan benar. Bagaimana data tidak cukup hanya dikumpulkan, tapi juga perlu diberi makna. Bagaimana rekomendasi tidak bisa hanya terdengar bagus, tapi harus bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
Mungkin ini baru bagian pengantar, tapi cukup memberi gambaran bahwa strategic problem solving bukan cuma soal terlihat pintar saat memberi jawaban. Justru yang lebih penting adalah bagaimana menyusun cara berpikir supaya masalah yang rumit bisa dipahami dengan lebih jernih.
Di section berikutnya, materinya mulai masuk ke teknik problem solving dan business analysis. Jadi setelah bagian pengantar ini, pembahasannya akan mulai lebih dekat ke cara menyusun masalah, membaca data, dan mengubah analisis menjadi rekomendasi.
Kalau ada hal menarik lagi, akan saya tulis lagi sebagai catatan belajar berikutnya.



