Zaman sekarang rasanya banyak sekali istilah baru yang sering muncul di sekitar kita.
Di dunia teknologi, misalnya, ada istilah seperti tech bro. Di dunia psikologi atau kesehatan mental, ada istilah seperti mental health, mental illness, sampai mindfulness. Banyak istilah yang terdengar baru, padahal beberapa hal yang dijelaskan oleh istilah itu mungkin sudah pernah kita lakukan tanpa sadar. Bedanya, dulu kita belum tahu namanya saja.
Sebetulnya tulisan ini sudah jadi draft dari minggu lalu, tapi lupa saya post, hehe. Waktu itu saya kepikiran tentang hal ini setelah briefing pagi di kantor.
Saat itu Pak Bos menyampaikan bahwa kalau ada orang yang sedang berbicara, sebaiknya kita simpan dulu HP, lalu perhatikan orang yang sedang berbicara. Bukan cuma supaya kita bisa menangkap informasi dengan baik, tapi juga supaya orang yang berbicara merasa dihargai.
Sederhana sebenarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, di zaman sekarang hal seperti itu justru makin sulit dilakukan. Karena distraksi ada di mana-mana, terutama dari HP.
Dari situ saya jadi ingat pengalaman waktu kecil.
Dulu, ketika saya masih SD, saya merasa tidak terlalu banyak distraksi ketika belajar. Ada satu momen yang masih cukup saya ingat. Waktu itu saya kelas 1 atau 2 SD, agak lupa tepatnya. Saat jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada suara pesawat dari luar kelas.
Teman-teman saya waktu itu langsung keluar kelas untuk melihat pesawat tersebut. Namanya juga anak kecil, wajar saja penasaran. Tapi saya tetap diam di kelas dan melanjutkan pelajaran seperti biasa.
Waktu itu tentu saya tidak berpikir macam-macam. Tidak kepikiran bahwa itu adalah bentuk fokus, apalagi tahu istilahnya. Ya sudah, karena sedang jam pelajaran, berarti saya belajar.
Baru sekarang saya sadar, mungkin hal seperti itu sejalan dengan apa yang sekarang sering disebut mindfulness.
Secara sederhana, mindfulness adalah ketika kita hadir secara penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan. Kalau sedang belajar, ya belajar. Kalau sedang mendengarkan orang berbicara, ya mendengarkan. Kalau sedang makan, ya menikmati makanan itu, merasakan rasanya, mencium aromanya, dan benar-benar sadar bahwa kita sedang makan.
Dulu saya mungkin tidak tahu istilahnya. Tapi kebiasaannya sudah cukup dekat dengan itu.
Ketika sekolah, saya benar-benar berusaha belajar di sekolah. Saya tidak terlalu memikirkan main ketika sedang belajar. Karena bagi saya waktu itu, main ya nanti di rumah. Jadi ketika pulang sekolah, saya bisa main tanpa merasa harus belajar banyak lagi.
Bahkan waktu SD, saya termasuk jarang belajar khusus untuk menyiapkan ujian. Bukan karena saya merasa pintar, tapi karena saya merasa sudah belajar dengan cukup serius di sekolah. Jadi ketika di rumah, rasanya ya tinggal main saja, wkwk.
Mungkin salah satu yang membantu waktu itu adalah karena distraksinya belum sebanyak sekarang. Internet belum semudah hari ini. Kalau ingin mengakses internet, saya harus pergi ke warnet. Itu pun waktunya terbatas. Paling lama satu atau dua jam, karena kalau lebih dari itu biasanya akan dicari orang tua.
Sekarang semuanya berbeda. Informasi bisa datang kapan saja hanya dari HP. Mau belajar bisa dari HP, mau hiburan juga dari HP, mau cari apa pun bisa dari HP. Tapi karena terlalu mudah, akhirnya fokus juga jadi lebih gampang pecah.
Mungkin itu sebabnya hal sederhana seperti menyimpan HP ketika orang lain berbicara jadi penting lagi untuk diingatkan.
Karena ketika seseorang sedang berbicara, yang dibutuhkan bukan cuma telinga kita, tapi juga perhatian kita. Kalau tubuh kita ada di ruangan, tapi pikiran kita sibuk ke notifikasi, chat, atau hal lain, rasanya kita belum benar-benar hadir di situ.
Saya sendiri juga masih belajar untuk membiasakan hal ini.
Kalau lagi makan, ya berusaha makan dulu. Tidak sambil terlalu banyak memikirkan hal lain. Kalau lagi kerja, ya berusaha fokus ke pekerjaan. Kalau ada meeting, ya disiapkan dengan baik, lalu dijalani. Bukan malah sibuk overthinking duluan, takut salah menyampaikan, takut tidak sesuai, atau takut hal-hal lain yang belum tentu terjadi.
Tentu saja ini tidak mudah. Apalagi kalau sudah terbiasa melakukan banyak hal bersamaan. Kadang makan sambil buka HP, kerja sambil mikirin hal lain, atau mendengarkan orang sambil sesekali mengecek layar.
Tapi mungkin memang perlu dilatih pelan-pelan.
Dari briefing pagi minggu lalu dan ingatan masa kecil itu, saya jadi merasa bahwa beberapa istilah yang terdengar baru sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin pernah melakukannya, hanya belum tahu namanya.
Dulu saya hanya berpikir, kalau sedang belajar ya belajar. Kalau sedang main ya main. Sekarang saya baru tahu, mungkin itu salah satu bentuk sederhana dari mindfulness.
Hadir penuh pada apa yang sedang dilakukan saat ini.
Kelihatannya sederhana, tapi ternyata tidak selalu mudah. Apalagi di zaman ketika perhatian kita bisa ditarik ke mana-mana hanya oleh satu benda kecil bernama HP.



