Photo by Redd Francisco on Unsplash

Kemarin adalah kali kedua saya ngobrol cukup panjang di perjalanan dengan Kang Asep, setelah sebelumnya kami juga sempat banyak ngobrol waktu perjalanan pergi dan pulang saat saya mengikuti pelatihan PTS di Magelang.

Jadi kemarin itu saya ada agenda ke kabin bersama Kang Asep untuk mempersiapkan kunjungan program masa persiapan pensiun yang diselenggarakan oleh Sazara, berkolaborasi dengan Zeze Zahra Excellent Farm, dengan peserta dari PT Toyota Boshoku Indonesia.

Sama seperti perjalanan sebelumnya, di perjalanan menuju kabin saya cukup banyak ngobrol dengan Kang Asep. Obrolannya berangkat dari banyak ketidaktahuan saya dan rasa penasaran saya, baik tentang pekerjaan, kehidupan personal, bagaimana maintenance pertemanan, sampai bagaimana caranya bernegosiasi dalam sebuah bisnis. Sebetulnya banyak banget, tapi itu aja dulu daripada nanti kebanyakan. 😀

Yang menarik dari agenda kemarin adalah waktu perjalanan pulang, Kang Asep mengantar saya ke rumah untuk mengambil pakaian karena saya akan menginap. Ini agenda dadakan, karena sebelumnya asumsi saya tidak akan menginap, makanya saya tidak membawa persiapan apa-apa.

Sebetulnya ada rasa tidak enak karena harus balik ke Rengasdengklok, lalu kembali lagi ke kabin yang jaraknya sekitar 30 menit kalau lancar. Tapi kata Kang Asep gapapa, karena sekalian main aja ke Rengasdengklok.

Sejujurnya saya juga bingung, karena di Rengasdengklok itu ga ada apa-apa. Bahkan untuk coffee shop aja masih jarang, dan saya juga kebetulan orang yang jarang makan di luar. Jadi saya bingung mau ngasih rekomendasi apa ke Kang Asep, karena sebagai orang situnya pun saya ga tahu apa-apa, wkwk.

Saya dan Kang Asep muter-muter cukup lama untuk nyari tempat makan dan cemilan buat dibawa ke kabin. Bahkan saya sempat mengarahkan masuk ke gang kecil yang biasanya saya rasa cukup luas karena dilewati naik motor, tapi ternyata waktu dilewati pakai mobil cukup sempit. 😅

Tadinya kami juga pengen beli sorabi ijo, salah satu makanan khas Rengasdengklok, untuk dibawa ke kabin. Tapi ternyata dua cabangnya tutup semua hari itu. Padahal itu satu-satunya hal yang bisa saya tunjukkan kalau Dengklok punya sesuatu, wkwk. Endingnya, kami beli rebusan aja buat dibawa ke kabin.

Singkat cerita, akhirnya kami makan di Warung Nasi Saung Sunda Khas Cianjur. Alasan kami memilih tempat itu ya karena tidak ada pilihan lain, wkwk. Alhamdulillah, rasanya cocok dengan Kang Asep, jadi saya tidak terlalu merasa bersalah sudah memutuskan untuk makan di situ. Apalagi saya sendiri juga belum pernah makan di sana, dan itu pertama kalinya.

Di perjalanan berangkat dan pulang, kami ngobrol cukup banyak. Tapi yang paling menarik untuk saya tulis adalah obrolan di perjalanan pulang ke kabin.

Awalnya, dari pertanyaan saya yang penasaran, Kang Asep bisa tahu informasi tentang trainer itu dari mana. Karena di kegiatan farm visit kali ini, Kang Asep hampir memegang semua urusan yang berkaitan dengan eksternal, termasuk vendor untuk trainer dan perlengkapan kegiatan.

Dari pertanyaan itu, obrolannya melebar ke topik tentang bagaimana cara mengelola hubungan dengan orang lain agar silaturahmi tetap terjalin, meskipun masing-masing sudah punya kesibukan.

Dari situ, Kang Asep menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan, kita tidak harus selalu bertemu untuk tetap merasa terhubung. Kadang hubungan itu bisa tetap hidup karena ada value yang dibawa dalam pertemanan, meskipun jarang sekali bertemu.

Dalam konteks ini, Kang Asep dan Kang Harri, trainer motivasi dan psikologi dari HCR.ID, terakhir bertemu hampir satu tahun yang lalu. Dari situ saya jadi bertanya lagi, gimana caranya supaya meskipun jarang bertemu, hubungan itu tetap bisa terhubung, bahkan bisa saling memberi pekerjaan satu sama lain.

Jawabannya kurang lebih ada di value itu. Selama kita saling mengenal dengan baik, punya hubungan yang baik, dan sama-sama membawa nilai dalam pertemanan, hubungan itu tidak benar-benar hilang hanya karena jarang bertemu.

Hal yang saya sadari adalah bahwa ternyata saya masih cukup terbawa perasaan waktu kuliah. Atau mungkin overthinking yang berlebihan, ya? Saya juga ga tahu tepatnya. Intinya, saya merasa selama ini kalau namanya pertemanan itu harus sering ketemu. Kalau sudah ga ketemu, berarti ya sudah, pertemanannya hilang dan silaturahminya putus.

Tapi ternyata ga begitu.

Selama kita mengenal orang itu dengan baik dan sama-sama punya value, hubungan yang sesungguhnya tetap bisa ada di situ. Ga ketemu bukan berarti silaturahmi sudah putus. Bisa jadi bentuk pertemanannya memang berubah.

Obrolan itu menarik buat saya, karena banyak sekali hal yang saya jalani sekarang masih terpaku pada cara pandang seperti itu. Ternyata setelah hidup di luar perkuliahan, hubungan dengan orang lain tidak sesederhana sering ketemu atau tidak ketemu.

Sebetulnya masih banyak banget obrolannya, tapi bagian itu yang paling ingin saya tulis. Supaya ke depannya, kalau saya menemukan diri saya mulai terganggu lagi dengan pikiran seperti itu, saya bisa ingat kembali apa yang disampaikan Kang Asep.

Bahwa hubungan baik tidak selalu harus dibuktikan dengan sering bertemu. Kadang ia tetap ada, hanya bentuknya saja yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *