Awalnya cuma nyari-nyari kegiatan buat weekend.

Bukan karena ada rencana besar. Bukan juga karena tiba-tiba pengin jadi sysadmin rumahan. Lebih ke perasaan, “Mau ngapain ya biar weekend ini ada hasilnya sedikit?” Sampai akhirnya keingetan ada satu laptop bekas yang sudah lama banget nggak dipakai.

Laptopnya masih nyala. Masih bisa hidup. Masih ada harapan. Masalahnya cuma satu: baterainya sudah kembung.

Dari situ mulai cari-cari dulu, apakah aman kalau baterai laptop dicopot lalu laptop dinyalakan langsung dari charger. Setelah baca-baca, ternyata untuk banyak laptop, selama charger masih normal dan daya stabil, laptop bisa tetap digunakan tanpa baterai. Akhirnya baterainya dicopot, charger dicolok, tombol power ditekan, dan… hidup.

Rasanya lumayan menyenangkan. Barang yang tadinya cuma teronggok, tiba-tiba punya kesempatan hidup kedua.

Sebetulnya, untuk urusan eksperimen server, saya sudah difasilitasi oleh kantor sebuah VPS yang bisa dijadikan “tempat bermain”, terutama untuk ngulik hal-hal seperti AI agent dan berbagai eksperimen teknis lainnya. Jadi ini bukan karena benar-benar kekurangan tempat untuk mencoba sesuatu.

Tapi rasanya tetap berbeda ketika yang dipakai adalah mesin sendiri, ada di rumah sendiri, dan berasal dari laptop lama yang tadinya hampir tidak tersentuh. Ada sisi iseng, penasaran, dan sedikit sentimental di situ. VPS kantor memang praktis dan siap pakai, tapi home server dari laptop bekas punya rasa eksperimen yang lebih personal.

Setelah berhasil nyala, muncul pertanyaan berikutnya: ini laptop bisa dimanfaatkan buat apa?

Mulailah cari-cari lagi. Ketemu ide yang cukup menarik: dijadikan home server. Semacam VPS pribadi di rumah. Bisa buat belajar server, jalanin Docker, n8n, monitoring, file sharing, eksperimen aplikasi, atau sekadar tempat ngoprek tanpa harus sewa server dulu.

Dari situ petualangan kecil dimulai.

Langkah pertama: install Ubuntu Server. Pilihannya jatuh ke Ubuntu 24.04 LTS karena versi LTS lebih cocok buat server. ISO di-download, dibuat jadi bootable disk, lalu laptop dinyalakan lewat flashdisk.

Kelihatannya sudah siap. Tapi waktu mau install, prosesnya stuck di loading.

Dicek ulang pelan-pelan, ternyata yang ke-download malah Ubuntu 26.04. Wkwk.

Jadi ya sudah, download ulang lagi. File sekitar 6 GB, dan karena speed internet lagi tidak terlalu bersahabat, proses download terasa lama banget. Salah versi sedikit, bayarannya nunggu lagi.

Setelah ISO yang benar berhasil dibuat bootable, instalasi akhirnya bisa lanjut. Di bagian storage sempat perlu memastikan disk internal yang dipilih, bukan flashdisk installer. Laptop ini punya HDD sekitar 465 GB, dan ada opsi LVM yang awalnya cuma memberi 100 GB untuk root /, sementara sisanya masih menganggur. Jadi kapasitas root perlu dibesarkan supaya nanti Docker, database, log, dan aplikasi server tidak cepat mentok.

Setelah partisi beres, instalasi dilanjutkan. Ubuntu Server berhasil terpasang, user dibuat, dan laptop akhirnya bisa login ke sistem baru.

Tapi tentu saja belum selesai.

Masalah berikutnya muncul: jaringan belum aktif. Saat menjalankan pengecekan IP, hasilnya kosong. Artinya Ubuntu sudah terpasang, tapi belum punya koneksi jaringan. Karena ini Ubuntu Server, tidak ada tampilan desktop dan tidak ada virtual keyboard bawaan. Semuanya harus lewat terminal.

Yang bikin makin menarik, keyboard laptop juga bermasalah: tombol Space tidak berfungsi.

Jadi konfigurasi Wi-Fi harus dilakukan dengan cara agak kreatif. Spasi diganti memakai variabel bawaan terminal. Lalu konfigurasi Wi-Fi dibuat lewat Netplan. Sempat ada beberapa error, mulai dari salah menulis pengaturan DHCP, error karena access point belum terbaca, sampai format konfigurasi yang ternyata cukup sensitif terhadap spasi.

Akhirnya dipakai cara yang lebih aman: membuat file konfigurasi Netplan langsung, dengan spasi yang dihasilkan otomatis, jadi tidak perlu menekan tombol Space sama sekali. Nama Wi-Fi dan password dimasukkan, konfigurasi divalidasi, lalu diterapkan.

Setelah menunggu beberapa detik, pengecekan IP dijalankan lagi.

Kali ini IP muncul.

Itu momen kecil yang rasanya besar. Karena begitu IP sudah ada, laptop tidak perlu lagi dikonfigurasi langsung dari keyboard rusaknya. Langkah berikutnya tinggal mengakses laptop itu dari Mac, supaya semua pengaturan berikutnya bisa dilakukan jauh lebih nyaman dari komputer utama.

Kalau sudah berhasil masuk dari Mac, laptop bekas itu resmi bisa dikelola dari komputer lain. Dari titik itu, setup bisa dilanjutkan dengan lebih enak: update sistem, set timezone Asia/Jakarta, cek storage, cek RAM, aktifkan SSH, lalu nanti lanjut ke IP tetap, SSH key, firewall, Docker, Docker Compose, monitoring, dan service lain.

Weekend yang awalnya cuma bingung mau ngapain, akhirnya berubah jadi proyek kecil: menghidupkan lagi laptop lama, melepas baterai kembungnya, menginstall Ubuntu Server, mengakali keyboard rusak, dan menyiapkannya menjadi home server pribadi.

Belum sepenuhnya selesai, tapi fondasinya sudah berdiri. Nanti akan di-update kembali penggunaannya setelah beberapa hari dipakai. Kita lihat apakah laptop tua ini benar-benar siap jadi “VPS rumahan”, atau malah minta pensiun lagi. Wkwk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *