Saya lahir dari keluarga yang hidup sederhana. Sejak kecil, ibu mengajarkan saya untuk hidup sesuai kemampuan. Kalau memang belum mampu, ya sudah, jalani dulu apa adanya sambil tetap berusaha dan berharap ada banyak hal baik yang datang.
Saya tumbuh di wilayah yang mungkin bisa disebut desa, tapi tidak terlalu desa juga. Yang jelas, untuk pergi ke pusat kota perlu waktu sekitar satu jam. Apalagi waktu itu kendaraan kami juga terbatas.
Seingat saya, kami hanya punya satu motor yang dipakai bersama sekeluarga. Itu pun kalau mau digunakan, biasanya hanya bisa sampai sekitar jam satu siang. Setelah itu motornya dipakai kakek untuk berjualan sore hari.
Jadi, untuk kegiatan sehari-hari kami terbiasa menggunakan sepeda. Perginya juga paling ke tempat yang tidak terlalu jauh. Kebiasaan itu cukup terbawa sampai sekarang. Saya sendiri baru punya sepeda motor sekitar kelas dua SMK, ketika kebutuhannya memang sudah berbeda.
Hidup seperti itu membuat saya terbiasa menerima apa yang ada. Tapi di sisi lain, karena tidak banyak pergi dan mencoba hal baru, banyak juga hal di luar keseharian saya yang terasa asing. Saya jadi gampang minder, takut datang ke tempat baru, dan sering khawatir duluan karena tidak tahu harus melakukan apa.
Kondisi itu juga terbawa ke pergaulan saya waktu sekolah, baik ketika MTs maupun SMK. Kalau teman-teman pergi menonton bioskop atau main ke mal, saya biasanya memilih tidak ikut karena memang tidak punya uang untuk ikut pergi. Meskipun kadang tujuannya hanya jalan-jalan dan tidak membeli apa-apa, tetap saja saya merasa lebih baik tidak ikut dulu.
Akhirnya, banyak pengalaman mereka yang hanya saya tahu dari cerita. Ketika teman-teman sudah terbiasa pergi ke tempat-tempat seperti itu, saya sendiri masih belum tahu suasananya seperti apa atau biasanya mereka melakukan apa saja di sana.
Saya sampai lupa tepatnya pertama kali ke mal itu kapan. Yang jelas, waktu itu saya sudah SMK dan diajak oleh teman setelah saya bilang belum pernah ke sana, wkwk. Dari situ saya baru tahu secara langsung mal itu seperti apa.
Kalau dipikir sekarang mungkin terdengar biasa saja. Tapi buat saya waktu itu, pergi ke tempat seperti itu memang pengalaman baru. Bahkan sampai sekarang, ketika sudah bekerja pun, saya masih cukup sering merasa takut dan tidak nyaman berada di tempat umum yang ramai atau belum pernah saya datangi.
Menariknya, lewat pekerjaan sekarang saya justru mendapat banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan.
Salah satunya ketika kami mengikuti pelatihan di Magelang. Waktu itu Kang Asep meminta saya untuk mengurus check-in penginapan.
Sejujurnya, saya sempat takut untuk mengiyakan. Karena belum pernah, saya langsung tanya cukup detail tentang apa saja yang harus dilakukan. Setelah itu saya mencoba bersikap tenang dan menjalankannya.
Ternyata prosesnya biasa saja. Tidak ada hal yang perlu terlalu saya takutkan. Saya hanya belum terbiasa.
Ada rasa lega dan senang setelah berhasil menyelesaikannya. Mungkin buat orang lain itu tugas sederhana, tapi buat saya waktu itu rasanya lumayan berat, wkwk.
Pengalaman yang mirip muncul lagi beberapa hari ini.
Saya diminta ikut mengurus kebutuhan tempat dan administrasi untuk pelaksanaan training klien perusahaan. Oh iya, jadi Excellent, induk perusahaan Aktiva, sedang mengadakan training AI untuk salah satu kliennya. Saya tergabung dalam tim yang menangani kegiatan tersebut.
Kali ini saya kebagian mengurus penyewaan ruangan, koordinasi konsumsi dan snack, serta kebutuhan akomodasi.
Waktu pertama menerima tugas itu, yang langsung muncul di kepala saya adalah, “Waduh, gimana ini cari ruangannya?”
Saya masih terbilang baru di Bekasi dan belum terlalu hafal jalan. Belum lagi rasa takut karena harus datang ke tempat yang belum saya kenal, berhadapan dengan resepsionis, atau khawatir salah ngomong, wkwk.
Untungnya ada AI. Saya coba minta bantuan untuk mencari informasi meeting room di Bekasi. Dari situ saya mendapatkan pilihan tempat yang bisa diajukan. Prosesnya juga tidak terlalu lama, jadi saya masih punya waktu untuk menyiapkan kebutuhan dan meminta approval.
Setelah disetujui, berikutnya tinggal survei ke lokasi.
Nah, bagian ini juga cukup menarik buat saya. Dari dulu, kalau harus pergi atau mengurus sesuatu yang belum pernah dilakukan, biasanya saya akan mencari teman dulu. Waktu kuliah juga begitu. Hal pertama yang saya pikirkan adalah siapa yang kira-kira bisa diajak supaya setidaknya saya tidak sendirian, hehe.
Sekarang kondisinya sudah berbeda. Rekan-rekan kerja punya pekerjaan masing-masing. Rasanya tidak mungkin setiap ada tugas seperti ini saya harus mengajak orang lain hanya karena takut pergi sendiri.
Jadi ya sudah, saya beranikan diri berangkat dengan mengandalkan Maps.
Sesampainya di sana, saya survei ruangan dan memastikan apakah tempatnya sesuai dengan kebutuhan kami. Alhamdulillah, ternyata sesuai, jadi tidak perlu mencari pilihan lain.
Setelah urusan tempat, saya juga berkoordinasi dengan staf Human Capital untuk pemesanan snack, mengurus makan siang, serta menyiapkan anggaran untuk kebutuhan makan dan akomodasi.
Dari pengalaman-pengalaman ini saya mulai sadar bahwa banyak hal terasa berat karena saya belum pernah melakukannya. Sebelum berangkat sudah khawatir macam-macam, padahal setelah dijalani ternyata bisa juga.
Tentu bukan berarti sekarang saya langsung berani ke mana-mana sendiri. Rasa takutnya masih ada. Tapi setidaknya saya mulai punya pengalaman yang bisa diingat ketika harus menghadapi hal serupa lagi.
Alhamdulillah, saya juga mendapat tempat bekerja yang memberi ruang untuk belajar, mencoba, dan membuat kesalahan. Buat saya, itu membantu sekali. Saya jadi lebih nyaman bertanya ketika belum tahu dan lebih berani mengambil tindakan meskipun masih belajar.
Mungkin prosesnya memang lewat hal-hal seperti ini. Mengurus check-in penginapan, datang untuk survei ruangan, lalu berkoordinasi dengan orang yang sebelumnya belum dikenal.
Kelihatannya sederhana, tapi buat saya ada rasa senang setiap kali berhasil melewatinya. Ternyata saya bisa juga, meskipun di awal sudah takut duluan, hehe.



