Hari ini saya menonton salah satu video tentang public speaking. Videonya membahas cara menghilangkan grogi dan membangun rasa percaya diri ketika berbicara di depan orang lain.

Topik ini cukup menarik buat saya, karena kemampuan komunikasi rasanya makin penting di banyak hal. Bukan cuma untuk orang yang pekerjaannya jadi MC, pembicara, atau trainer. Dalam pekerjaan sehari-hari pun, kemampuan menyampaikan ide dengan jelas itu sangat dibutuhkan.

Di video itu dijelaskan bahwa banyak orang grogi karena terlalu fokus pada dirinya sendiri.

Takut dinilai. Takut salah. Takut kelihatan bodoh. Takut cara ngomongnya aneh. Takut orang lain tidak tertarik.

Padahal, fokus yang seharusnya dibawa adalah value apa yang bisa diberikan ke audiens. Mindset-nya bukan lagi “saya kelihatan bagus atau tidak?”, tapi “orang lain mendapat manfaat atau tidak?”

Bagian ini membuat saya ingat pengalaman waktu diminta presentasi AkFina ke tim internal kantor.

Waktu itu saya masih terbilang cukup baru sebagai staff di Aktiva. Tapi Pak Bos meminta saya untuk menjelaskan aplikasi yang sedang kami kembangkan, yaitu AkFina.

Perasaannya cukup aneh dan tentu saja takut. Pertama, karena saya masih baru. Kedua, karena saya juga baru ikut mengembangkan aplikasi yang latar belakangnya berkaitan dengan keuangan. Sementara saya sendiri tidak punya background sama sekali di manajemen keuangan.

Jadi ada rasa khawatir, takut salah menjelaskan, takut tidak bisa menjawab, dan takut terlihat tidak menguasai materi.

Alhamdulillah, sesi itu hampir berjalan lancar. Saya juga banyak dibantu oleh Pak Bos dalam penyampaiannya. Setelah itu, saya mendapat beberapa masukan, salah satunya tentang sikap atau gesture ketika presentasi.

Waktu itu, karena gugup dan belum tahu harus bersikap seperti apa, saya memasukkan tangan ke saku celana. Bagi saya waktu itu mungkin cuma cara untuk mengakali rasa gugup. Tapi ternyata saya mendapat teguran dari Pak Bos, karena gesture seperti itu kurang sopan, apalagi ketika presentasi ke atasan atau orang yang posisinya lebih tinggi.

Masukan itu cukup menempel buat saya.

Dari situ saya belajar bahwa public speaking bukan cuma soal isi materi. Cara berdiri, gesture, ekspresi, dan sikap saat menyampaikan juga ikut berbicara. Bahkan sebelum kalimat kita selesai, tubuh kita sudah lebih dulu memberi kesan ke orang lain.

Di video itu juga dijelaskan pentingnya mengenal audiens sebelum berbicara. Kita perlu tahu siapa yang akan mendengarkan, apa yang mereka sudah tahu, apa masalah mereka, dan apa yang mereka harapkan dari pembicaraan itu.

Dari situ, materi dan cara penyampaian bisa disesuaikan. Karena berbicara di depan orang lain bukan cuma soal menyampaikan apa yang kita tahu, tapi juga bagaimana membuat orang yang mendengarkan bisa merasa bahwa hal itu relevan untuk mereka.

Ada juga konsep CCR yang dibahas, yaitu credible, convincing, dan reliable.

Credible berarti kita punya pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang hal yang disampaikan. Convincing berarti cara menyampaikan harus meyakinkan, runtut, dan bisa diterima secara logis. Reliable berarti kita bisa dipercaya, konsisten, dan tidak asal ngomong.

Menurut saya ini cukup penting. Karena public speaking bukan cuma soal berani tampil. Berani memang penting, tapi isi pembicaraan juga harus kuat. Percuma percaya diri kalau yang disampaikan tidak jelas. Tapi sebaliknya, punya isi yang bagus juga bisa kurang maksimal kalau cara menyampaikannya tidak tertata.

Bagian lain yang menarik adalah soal pembukaan.

Dalam presentasi, 30 detik pertama ternyata cukup penting. Di bagian awal itu, pembicara perlu menarik perhatian audiens. Bisa dengan pertanyaan, cerita singkat, atau fakta yang membuat orang merasa perlu mendengarkan lebih lanjut.

Setelah itu baru masuk ke isi utama, lalu ditutup dengan penutup yang jelas.

Kelihatannya sederhana, tapi saya merasa ini sering terlewat. Kadang kita terlalu buru-buru masuk ke materi, padahal audiens belum benar-benar siap mendengarkan. Akhirnya informasi yang disampaikan mungkin benar, tapi tidak langsung terasa menarik.

Di bagian persiapan, ada beberapa hal yang menurut saya cukup praktis. Sebelum presentasi, kita perlu memahami tujuan berbicara, mengenal audiens, merancang struktur materi, dan latihan.

Grogi sendiri dianggap sesuatu yang normal. Jadi bukan berarti orang yang jago public speaking itu tidak pernah grogi. Mungkin mereka tetap grogi, tapi tahu bagaimana cara mengelolanya.

Beberapa cara teknisnya juga cukup masuk akal. Datang lebih awal, mengenali ruangan, mencoba mikrofon, melihat posisi audiens, dan ngobrol ringan dulu sebelum acara dimulai.

Hal-hal kecil seperti itu bisa membantu tubuh dan pikiran merasa lebih familiar dengan situasi. Jadi ketika harus mulai berbicara, semuanya tidak terasa terlalu asing.

Di video itu juga diceritakan tentang ritual sebelum tampil, yaitu mengambil waktu hening sebentar, mengatur napas, mengingat kembali tujuan berbicara, lalu fokus pada impact yang ingin diberikan.

Menurut saya bagian ini menarik, karena ternyata persiapan public speaking bukan cuma soal materi. Ada juga persiapan mental. Bagaimana menenangkan diri sebelum tampil, bagaimana mengatur fokus, dan bagaimana mengingat lagi alasan kenapa kita perlu berbicara.

Di akhir, ada juga pembahasan tentang merasa baik dan terlihat baik. Bahwa ketika kita merasa lebih sehat, lebih rapi, dan lebih siap, itu bisa membantu menambah kepercayaan diri saat tampil di depan umum.

Tapi tentu saja, itu bukan berarti penampilan jadi segalanya. Isi dan kualitas berpikir tetap yang utama. Penampilan hanya membantu, bukan menggantikan substansi.

Dari pengalaman presentasi AkFina dan video yang saya tonton, saya jadi sadar bahwa kemampuan berbicara di depan orang lain memang perlu dilatih pelan-pelan.

Grogi mungkin tetap ada. Tapi setidaknya sekarang saya tahu bahwa yang perlu diperbaiki bukan cuma keberanian, tapi juga persiapan, pemahaman materi, cara menyampaikan, dan sikap tubuh saat berbicara.

Semua itu saya coba perbaiki pelan-pelan supaya tidak terulang lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *