Pekerjaan Tambahan di Hari Libur

Jum’at sore adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu di hari kerja. Selain karena di kantor ada subsidi makan siang gratis yang selalu enak-enak, hari Jum’at juga menjadi jadwal saya pulang ke Karawang setelah jam kerja selesai.

Biasanya saya sudah membereskan semua barang yang akan dibawa pulang sehari sebelumnya. Jadi ketika Jum’at sore tiba, saya bisa langsung berangkat. Dengan begitu, saya biasanya sampai di rumah masih sore dan tentu saja adik-adik saya belum tidur. Tapi itu tidak selalu. Kalau sedang terlalu capek, saya biasanya baru berangkat setelah sholat Isya.

Meskipun jaraknya cukup jauh, pulang ke rumah selalu terasa seperti perjalanan untuk melepas lelah. Karena setiap kali sampai di depan rumah, adik kedua saya, Ananda—yang biasa dipanggil Neng—biasanya sudah mengenali suara motor saya dan langsung berlari ke depan pintu. Rasanya lelah setelah seminggu bekerja hilang begitu saja.

Kalimat pertama yang hampir selalu dia ucapkan adalah, “Yeay, aa pulang!” Lalu dia mencium tangan saya, dan tak jarang juga berusaha membawakan tas saya, meskipun dengan cara diseret, wkwk. Wajar saja, usianya baru dua tahun. Bahkan mungkin bobot badannya tidak jauh beda dengan tas yang saya bawa pulang.

Setiap kali saya pulang dan kondisi badan tidak terlalu capek serta cuaca tidak hujan, ada satu “ritual” kecil yang sering kami lakukan: jalan-jalan sebentar naik motor sebelum saya benar-benar masuk rumah. Dia paling senang kalau diajak keliling, meskipun sering kali ibu melarang karena khawatir saya masih lelah setelah perjalanan. Tapi namanya juga anak kecil, mana paham. Yasudahlah, paling hanya 10 menit. Itu pun kalau dia tidak minta berhenti di minimarket depan rumah untuk beli susu.

Hal kecil seperti itu masih sering kami lakukan sampai sekarang. Entah sampai kapan. Mungkin seiring bertambahnya usia, kebiasaan ini perlahan akan menghilang.

Setelah “kewajiban” itu terlaksana, barulah saya masuk ke dalam rumah, bersalaman dengan orang tua, lalu menanyakan kabar adik pertama saya, Fauzan. Komunikasi saya dengan Fauzan memang cukup dingin. Biasanya hanya sepatah dua patah kata saja. Entahlah, mungkin memang karakternya tidak terlalu suka banyak bicara. Setelah itu, saya masuk kamar untuk menyimpan barang-barang bawaan.

Setiap kali sampai di kamar, hampir selalu ada saja yang berbeda. Karena kamar sengaja tidak saya kunci, kadang ada buku yang berpindah tempat, atau meja kerja sedikit berantakan. Biasanya itu menjadi pekerjaan tambahan saya di hari libur, karena malamnya sudah terlalu capek dan langsung tidur.

Malam itu, saya melihat meja kerja dipenuhi barang-barang yang sudah sangat familiar: seperangkat mainan masak-masakan milik Neng. Rupanya dia membawa semuanya ke kamar dan bermain di sana. Kalau saya sedang di rumah, hal seperti ini jarang terjadi, karena saya selalu membiasakan untuk membereskan mainan bersama setelah selesai digunakan. Bukan apa-apa, hanya ingin perlahan membentuk rasa tanggung jawab dari hal kecil. Tapi kalau saya tidak di rumah, ya sudah… kembali ke pengaturan awal, haha.

Selain membereskan mainannya, di hari libur saya juga sering menemaninya bermain. Kadang kami pura-pura masak bersama, kadang hanya duduk mendengarkan dia bercerita dengan bahasa yang masih belum sepenuhnya jelas. Sesekali, kami juga menonton video Bing, karakter kelinci animasi favoritnya di YouTube.

Hal-hal kecil seperti itu yang membuat perjalanan pulang setiap Jum’at terasa berbeda.

Itulah sedikit cerita tentang Jum’at sore yang selalu saya tunggu setiap minggunya. Mungkin terlihat biasa, tapi buat saya momen-momen kecil seperti ini cukup berarti.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *