Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran yudisium saya, sekaligus batch terakhir sidang yudisium di semester 8. Kalau sampai hari ini berkas saya belum juga lengkap, mau tidak mau saya harus ikut di semester 9. Artinya menunggu satu semester lagi, dan tentu saja membayar UKT lagi.

Seminggu terakhir kepala saya rasanya penuh terus. Tenggatnya makin mepet, tidak ada jadwal sidang tambahan, dan yang mengganjal cuma satu hal: tanda tangan dosen pembimbing yang belum saya dapatkan. Semua proses akademik lain sudah beres. Tanpa satu tanda tangan itu, berkas saya tidak lengkap dan pendaftarannya tidak bisa jalan sama sekali.

Senin, 20 Juli, saya berangkat dengan niat menyelesaikan semuanya di hari itu juga. Minggu sorenya saya mendadak meminta izin ke Pak Bos dan tim HC untuk tidak masuk seharian penuh, karena harus menemui dosen pembimbing yang sejak beberapa waktu lalu belum bisa saya temui.

Harapan saya waktu itu sederhana saja. Ditemui di kampus boleh, diminta menyusul ke tempat lain juga saya jabanin, terserah, yang penting saya pulang membawa tanda tangan. Saya menunggu cukup lama hari itu. Sempat juga berdiskusi dan meminta bantuan ke koordinator prodi, tapi hasilnya tetap sama. Beliau hanya berpesan supaya saya terus mengupayakan dan jangan capek dulu.

Ternyata sampai sore saya belum juga berhasil menemuinya. Perasaan saya benar-benar tidak karuan. Bukan cuma karena tanda tangannya belum dapat, tapi juga karena saya merasa tidak enak ke atasan. Saya izin seharian penuh, pekerjaan jadi tidak tergarap maksimal, sementara saya sendiri hitungannya masih staff baru. Jujur, itu bagian yang paling mengganjal, dan saya tidak bisa membohongi perasaan itu.

Padahal dari sisi Pak Bos dan tim HC sama sekali tidak ada masalah. Mereka justru mendukung penuh supaya urusan administrasi kuliah ini cepat kelar. Tapi namanya perasaan, ya tetap saja mengganjal.

Makanya di hari Selasa saya sempat maju mundur. Mau izin lagi rasanya berat sekali. Kalau dipikir-pikir, tanda tangannya belum tentu dapat, tapi pekerjaan sudah pasti tidak jalan hari itu. Rasanya seperti mempertaruhkan sesuatu yang belum jelas hasilnya.

Rabu adalah jadwal WFH kantor. Momentumnya terasa pas, karena saya tidak harus ke kantor dan bisa bekerja lebih fleksibel dari mana saja. Jadi dengan perasaan yang masih tidak enak itu, saya memberanikan diri mengajukan izin lagi. Kali ini bukan seharian, cuma setengah hari, supaya paginya saya tetap bisa bekerja seperti biasa.

Tak disangka, jawaban yang saya terima justru bikin lega luar biasa. Baik Pak Bos maupun tim HC benar-benar mendukung proses saya. Pak Afandi bahkan menawari saya untuk izin full saja supaya bisa lebih maksimal. Energi positifnya kerasa banget, dan sisa rasa bersalah yang saya bawa sejak Senin langsung mereda.

Ini bukan pertama kalinya saya merasa sebersyukur ini. Setiap kali izin untuk keperluan seperti ini, saya tidak pernah dipersulit. Jalannya justru dibuka lebar-lebar. Bahkan hari Senin kemarin, waktu saya izin, Pak Bos menawarkan opsi supaya saya berangkat agak siang di hari Selasa, karena khawatir saya kerepotan kalau harus menempuh perjalanan malam itu juga.

Latar belakang Aktiva maupun Excellent memberikan keleluasaan izin untuk urusan pendidikan adalah pengalaman Pak Bos sendiri, yang dulu semasa masih menjadi karyawan di perusahaan lain sulit sekali mendapat izin kuliah. Beliau tidak ingin staff-nya mengalami hal yang sama, jadi kebijakan seperti ini diberlakukan.

Alhamdulillah, hari ini pendaftaran yudisium saya akhirnya selesai. Banyak sekali yang membantu, mulai dari teman-teman kuliah, Pak Bos, tim HC, sampai staff kantor. Rasanya lega sekali. Tidak perlu lagi pusing berburu tanda tangan dosen pembimbing, dan bayang-bayang harus membayar UKT semester 9 resmi hilang, hehe.

Prosesnya memang penuh kendala, tapi pelajaran dan dukungan yang saya dapat jauh lebih banyak. Saya tidak tahu Ibu saya berdoa seperti apa setiap harinya. Yang jelas, sampai hari ini saya selalu diberi kemudahan. Mulai dari diterima bekerja dengan status mahasiswa akhir dan pengalaman nol, lalu mendapat atasan dan tim yang sangat suportif, sampai kemudahan-kemudahan kecil lain yang sering datang tanpa saya minta.

Mungkin terlihat biasa, tapi buat saya justru di situ letak syukurnya. Setiap kali menemukan hal yang berat, selalu saja ada sudut positif yang bisa saya temukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *