Kalau bicara soal pekerjaan yang dicita-citakan, jalan saya menuju ke sana ternyata berputar-putar. Dari dulu, kalau ada orang yang tanya “mau kuliah apa kerja?”, jawaban saya selalu sama: “kerja”. Tidak pernah sekali pun saya menjawab kuliah, bahkan untuk sekadar terpikir pun waktu itu tidak sama sekali. Jawaban itu bertahan sampai saya masuk kelas 12 SMK, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan.

Di penghujung kelulusan, saya tiba-tiba dipanggil oleh guru BK, Bu Ika dan Bu Eulis. Pertanyaan yang sama datang lagi: setelah lulus mau ngapain? Saya masih kekeh dengan jawaban saya, “Kerja dulu.” Lalu mereka menjelaskan, kenapa tidak coba dulu kuliah, padahal jalannya ada untuk dicoba. Alasan saya bertekad langsung bekerja sebenarnya sederhana: latar belakang keluarga yang hidup dalam keterbatasan. Saya ingin mulai membantu meringankan beban orang tua, jadi pikiran untuk melanjutkan pendidikan sama sekali tidak ada. Yang ada di kepala hanya satu, bagaimana caranya setelah ini saya bisa membantu orang tua di usia mereka yang tenaganya sudah tidak seperti dulu.

Tapi setelah beberapa kali diminta ke ruang konseling, keteguhan saya perlahan lebur. Saya pikirkan berkali-kali, dan saya diskusikan dengan orang tua. Ini juga tidak lepas dari dukungan mereka yang dengan ikhlas terus mendorong saya menjadi lebih baik, termasuk soal mendapatkan pendidikan yang cukup. Singkat cerita, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan mendaftar SNBP. Mengandalkan nilai seadanya dan tanpa persiapan sama sekali. Di pendaftaran itu pun saya tidak berharap banyak, karena memang dari awal saya benar-benar tidak merencanakan untuk kuliah.

Di hari pengumuman, alhamdulillah saya diterima di kampus yang saya pilih, di jurusan yang justru bukan keinginan saya, wkwk. Saya diterima diĀ Universitas Singaperbangsa Karawang, program studi Informatika. Dari awal, prodi yang paling menarik perhatian saya sebenarnya Ilmu Komunikasi. Tapi karena pemilihan prodi harus sesuai dengan jurusan SMK, ya sudahlah.

Karena tekad awal saya adalah bekerja, begitu diterima kuliah saya langsung mencari-cari: dari program studi ini, pekerjaan apa yang paling banyak lowongannya di dunia kerja? Jadi sejak awal masuk saya sudah tahu saya akan menjadi seorang front-end developer. Itulah pekerjaan yang dicita-citakan versi saya waktu itu, dan semua yang berkaitan dengan itu saya upayakan, ikut kursus dari yang gratisan sampai berbayar, ambil sertifikasi, ikut lomba untuk mengumpulkan portofolio, dengan harapan memperbesar peluang diterima kerja.

Dari semester 1 sampai 7 saya masih fokus pada tujuan itu. Sampai akhirnya tiba waktu magang sebagai syarat kelulusan, dan saya mulai melamar pekerjaan yang dicita-citakan itu, di bidang yang memang sudah saya siapkan. Cukup banyak lowongan yang saya apply, saking banyaknya sampai tidak terhitung, tapi hanya sedikit yang sampai tahap tes. Mungkin saingannya lebih banyak yang portofolionya lebih bagus, wkwk. Karena tidak mungkin terus-terusan mencoba di satu bidang tanpa hasil, saya mulai belajar untuk tidak terlalu idealis.

Pelan-pelan saya mulai mencari-cari kira-kira pekerjaan apa lagi yang bisa saya lamar selain front-end, tapi yang skill-nya masih nyambung dan tidak benar-benar kosong. Saya buka-buka lagi pelajaran, kursus, dan pelatihan yang pernah saya ikuti. Akhirnya, dengan modal yang masih bisa dibilang seadanya, saya mencoba melamar posisi Project Manager, karena beberapa kali saya pernah menjadi PM di tugas kuliah. Modalnya cuma itu, wkwk.

Ternyata, setelah beberapa lamaran di posisi Project Manager, saya mulai mendapat panggilan interview dan tes. Dari situ saya mikir, “kayaknya saya emang cocok di sini deh.” Waktu itu dalam seminggu bisa dua kali tes atau interview, dijalaniĀ sambil kuliah. Terima kasih untuk bapak-ibu dosen yang memberi keringanan, meskipun ada juga yang tetap memberatkan, wkwk.

Beberapa interview dijalani, ada juga yang sampai offering letter. Lalu ada satu notifikasi masuk ke email: saya dapat panggilan tes lagi. Tapi ada yang bikin saya diam. Di situ tertulis “Associate Product Manager”. Saya terdiam sebentar dan berpikir, “kayaknya ini bug deh,” karena saya merasa tidak pernah melamar di posisi itu. Selain tidak punya background di sana, yang saya cari selama ini juga Project Manager. Setelah saya cek ulang di portal lowongannya, ternyata benar saya pernah melamar di posisi itu, cuma mungkin tidak ngeh, wkwk.

Karena dari awal target saya cuma “yang penting CV-nya dilihat dulu”, semua panggilan tes yang masuk saya jalani sebaik mungkin. Paling tidak saya dapat pelajaran dan pengalaman dari setiap sesi untuk jadi lebih baik di tes berikutnya. Jadi tes Associate Product Manager itu saya ikuti juga, dengan ilmu dan pengalaman yang masih sedikit sekali, bahkan bisa dibilang kurang untuk benar-benar kerja. Saya jalani tesnya seperti biasa, dan alhamdulillah lolos ke tahap selanjutnya: interview. Interviewnya seperti biasa, ditanya pengalaman relevan sebelumnya dan latar belakang pendidikan. Bagian ini lancar.

Selesai interview terakhir, saya sempat berpikir, pekerjaan ini tidak akan menyentuh coding, jauh dari rencana awal karier saya sebagai front-end developer. Tapi karena waktu itu keadaannya mepet, saya khusnudzon saja, semoga tetap bisa mempelajari apa yang dibutuhkan kalau diterima.

Dan akhirnya saya masuk ke PT Aktiva Kreasi Investama sebagai Associate Product Manager. Hal pertama yang saya lakukan, selain memahami lingkungan kerja dan beradaptasi, adalah ngebut belajar tentang product manager itu sendiri, wkwk. Alhamdulillah lingkungan kerja saya sangat suportif untuk saya yang baru belajar dan baru pertama kali bekerja secara profesional. Jadi meskipun kadang ada bingungnya, karena lingkungannya enak dan sangat membantu, proses belajar dan adaptasi saya tidak begitu sulit.

Selama hampir 8 bulan itu saya benar-benar fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan menjaga kualitas produk: merancang, mendemokan, mencari ide, memvalidasi ide, dan sebagainya. Meskipun ada beberapa kali saya tetap ngoding, itu pun cuma HTML untuk kebutuhan prototipe dan demo ide, wkwk.

Kembali ke Pekerjaan yang Dicita-citakan

Pekerjaan yang dicita-citakan: perjalanan dari mahasiswa Informatika ke Associate Product Manager

Sampai belakangan ini, saya diminta untuk membantu salah satu project internal kantor. Peran utama saya tetap product manager, bukan pindah jadi programmer, tapi kali ini saya kebagian ikut turun tangan di sisi codingnya. Tanpa saya sangka-sangka, di situ saya jadi mencicipi lagi pekerjaan yang dicita-citakan di awal kuliah dulu, wkwk. Memang sekarangĀ dibantu AI, jadi terasa jauh lebih mudah dibanding kalau harus dari nol sendiri. Tapi tetap saja ada rasa senang tersendiri, semacam “wah, akhirnya saya bisa ngoding di perusahaan beneran.” Rasanya excited setiap kali membuat pull request dari hasil pekerjaan saya, wkwk.

Siapa sangka, lewat jalan yang sama sekali tidak saya rencanakan, saya malah balik lagi menyentuh coding. Alhamdulillah, akhirnya pekerjaan yang dicita-citakan itu kesampaian juga, tanpa harus lewat seleksi tes live coding dulu, wkwkwkwk.

One comment on “Pekerjaan yang Dicita-citakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *