WFH Rabu selalu punya posisi istimewa dalam seminggu buat saya. Hari ini berada tepat di tengah, menjadi titik jeda saat energi mulai menipis setelah dua hari pertama yang padat, sekaligus jembatan menuju dua hari terakhir sebelum akhir pekan. Karena itulah kebijakan WFH Rabu ini terasa pas. Ia hadir di momen yang tepat, ketika tubuh dan pikiran memang butuh sedikit ruang untuk bernapas.

Tapi semakin ke sini, saya sadar bahwa WFH Rabu bukan cuma soal recharge energi. Kalau hanya dimaknai sebagai “hari istirahat”, rasanya sayang. Seperti yang pernah saya ceritakan di catatan WFH Rabu sebelumnya, hari ini justru menjadi kesempatan untuk bekerja dengan cara yang berbeda: lebih fleksibel, lebih fokus, dan lebih leluasa mengerjakan hal-hal yang sulit dilakukan di kantor.

WFH Rabu: Fleksibilitas yang Justru Bikin Produktif

Di kost, saya bisa mengatur ritme sendiri. Tidak ada interupsi mendadak, tidak perlu berpindah-pindah ruangan untuk meeting, dan saya bebas menentukan kapan harus fokus penuh dan kapan harus rehat sejenak. Jujur saja, di kost saya justru lebih aman dari gangguan adik-adik saya dibandingkan kalau di rumah, hehe. Kalau di rumah, baru buka laptop sebentar saja sudah ada yang minta ditemani main. Fleksibilitas inilah yang sering disalahpahami. Banyak yang mengira WFH berarti kerja jadi longgar, padahal buat saya justru sebaliknya. Ketika saya bisa mengatur waktu sesuai kondisi energi, hasil kerjanya malah lebih maksimal.

Rabu ini saya merasakannya lagi. Alih-alih menghabiskan waktu untuk pekerjaan administratif yang bisa dikerjakan kapan saja, saya memilih menuntaskan satu hal yang butuh ketenangan dan ketelitian tinggi: mengecek dan mengkalibrasi ulang perangkat IoT saya.

Mengecek dan Mengkalibrasi Alat IoT

Alat-alat IoT ini sudah cukup lama tidak saya sentuh secara serius. Terakhir saya menggunakannya untuk praktik ujian akhir mata kuliah IoT di semester 7, dan sekarang kuliah saya pun sudah hampir rampung karena sedang menyelesaikan skripsi, hehe.

Ceritanya berawal dari obrolan dengan Pak Bos di kantor. Beliau meminta saya mencoba membuatkan alat IoT untuk menyiram tanaman secara otomatis, sebab tanaman di rooftop rumahnya kerap layu kalau kelupaan disiram. Dari obrolan kecil itulah saya jadi semangat menghidupkan kembali perangkat-perangkat yang sempat menganggur ini. Dalam waktu dekat rencananya juga akan saya gunakan untuk membuat prototipe penggunaan di kabin. Sebelum masuk ke tahap itu, saya perlu memastikan semuanya masih bekerja sebagaimana mestinya.

Maka Rabu ini saya mulai dari hal paling mendasar. Saya periksa satu per satu kondisi sensor, memastikan koneksinya stabil, lalu mengkalibrasi pembacaan datanya agar akurat. Proses seperti ini sebenarnya sepele, tapi kalau dilewati bisa berakibat fatal di tahap prototipe. Data yang tidak terkalibrasi dengan baik akan membuat seluruh sistem menghasilkan pembacaan yang menyesatkan, dan itu justru akan memperlambat pekerjaan di kemudian hari.

Pekerjaan semacam ini, jujur saja, sulit dilakukan di tengah kesibukan kantor. Butuh konsentrasi, butuh ketenangan, dan butuh waktu yang tidak terputus-putus. Di sinilah WFH Rabu menunjukkan nilainya. Saya bisa duduk tenang, menyiapkan alat, dan menekuni prosesnya tanpa terburu-buru. Sambil menunggu pembacaan sensor stabil, saya sempat membayangkan bentuk akhir alatnya nanti, mulai dari cara kerja pompa air sampai jadwal penyiraman yang bisa diatur dari jauh.

Recharge dan Bekerja Bisa Berjalan Beriringan

Yang menarik, di akhir hari saya justru merasa segar. Bukan karena tidak bekerja, tapi karena bekerja dengan cara yang saya nikmati. Mengutak-atik perangkat IoT, melihat pembacaan sensor kembali akurat, dan tahu bahwa saya selangkah lebih dekat menuju prototipe yang direncanakan, semua itu memberi kepuasan tersendiri.

Di titik ini saya paham bahwa recharge dan produktivitas tidak harus saling meniadakan. WFH Rabu membuktikan keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan kita tahu cara memanfaatkannya. Bukan sekadar rehat sejenak, tapi juga ruang untuk mengerjakan hal-hal penting dengan lebih tenang dan fokus.

Dan minggu depan, ketika Rabu kembali datang, saya sudah tahu akan saya isi dengan apa: melanjutkan langkah demi langkah menuju prototipe yang saya rencanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *