Minggu, 15 Juni 2026. Hari itu saya hadir di Farm Visit Zeze Zahra Excellent Farm bukan sebagai peserta, tapi jadi instruktur pertanian — untuk pertama kalinya.

Tugas saya hari itu adalah mengarahkan jalannya sesi, sementara Bang Indra yang mendemonstrasikan langsung ke peserta. Sekilas terdengar lebih mudah karena saya tidak perlu pegang alat sendiri. Tapi ada tuntutan yang tidak langsung terlihat: saya harus selalu selangkah lebih depan, menjelaskan apa yang akan dilakukan sebelum Bang Indra melakukannya, dan memastikan penjelasan saya tidak bertabrakan dengan apa yang sedang terjadi di depan peserta.

Peserta Farm Visit Pertanian

Latar belakang peserta cukup beragam. Ada yang sedang mempersiapkan pensiun, ada yang sudah aktif bertani, dan ada juga yang memang sekadar ingin menambah pengalaman.

Yang membuat saya sedikit was-was, beberapa di antaranya adalah alumni pelatihan PTS (Petani Teman Sejati) — komunitas pertanian yang dibimbing Pak Bayu Diningrat. Saya sendiri baru saja lulus dari pelatihan yang sama, sementara beberapa peserta sudah lulus lebih lama dan sudah menerapkan ilmunya di lapangan. Jadi ada kemungkinan sebagian dari mereka justru lebih tahu dari saya soal hal yang sedang saya jelaskan. Perasaan yang cukup unik, dan jujur sedikit mengkhawatirkan. Wkwk.

Pupuk MOL: Gedebog Pisang, Molase, dan Air Cucian Beras

Sesi pertama adalah pembuatan pupuk MOL — Mikro Organisme Lokal. Pupuk cair dari bahan-bahan yang mudah didapat: gedebog pisang, molase, dan air cucian beras.

Saat Bang Indra menyiapkan bahan satu per satu, saya menjelaskan fungsi masing-masing ke peserta. Gedebog pisang kaya mikroorganisme alami. Molase sebagai sumber gula untuk aktivasi. Air cucian beras sebagai media yang kaya karbohidrat. Ketiganya difermentasi dan hasilnya bisa digunakan sebagai pupuk organik cair.

Di awal ada sedikit ketidaksinkronan — saya menjelaskan terlalu cepat sebelum Bang Indra selesai menyiapkan bahan, atau sebaliknya. Tapi lama-lama ritmenya mulai terbentuk.

Pot dari Galon Bekas

Sesi berikutnya membuat pot dari galon bekas air minum. Prosesnya tidak rumit: galon dipotong, diberi lubang drainase di bagian bawah, lalu siap diisi media tanam. Ukurannya cukup ideal untuk menanam sayuran skala rumahan, dan bahan bakunya mudah didapat.

Karena prosesnya visual dan bertahap, sesi ini lebih mudah saya arahkan. Koordinasi dengan Bang Indra juga sudah lebih baik dibanding sesi pertama.

Semai, Media Tanam, dan Pindah Tanam

Sesi terakhir mencakup menyiapkan media tanam, menyemai benih, dan memindahkan bibit — dengan pakcoy dan sawi sebagai contoh.

Saya menjelaskan komposisi media tanam yang kami gunakan: campuran tanah, kompos, dan sekam bakar. Komposisi ini penting karena media yang terlalu padat atau miskin nutrisi bisa menghambat pertumbuhan bibit sejak awal.

Bang Indra mendemonstrasikan proses semai dan pindah tanam ke pot galon yang sudah dibuat sebelumnya sambil saya mengarahkan hal teknis yang perlu diperhatikan, terutama soal kehati-hatian saat memindahkan bibit agar akarnya tidak rusak.

Praktik Pindah Tanam dan Semai Benih
Praktik Pindah Tanam dan Semai Benih

Kesan Setelah Jadi Instruktur Pertanian

Semua sesi berjalan sesuai rundown. Peserta mengikuti dengan tertib, tidak ada kendala berarti.

Dari pengalaman ini saya belajar satu hal yang cukup sederhana: menjelaskan sesuatu ke orang lain ternyata berbeda dengan sekadar bisa melakukannya. Ada detail-detail kecil yang biasanya saya lewati begitu saja, tapi ketika harus disampaikan ke peserta, saya perlu berhenti dan menyusunnya dengan lebih hati-hati.

Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *