
Bulan Mei ini rasanya jadi bulan yang cukup unik untuk dijadikan bahan refleksi perjalanan. Sudah lebih dari tiga kali, dalam beberapa minggu saja, saya disapa orang yang tidak saya kenal di tengah macet atau saat menunggu lampu merah, dan hampir semuanya bapak-bapak.
Sapaannya sederhana. Ada yang nanya kerja di mana, ada yang komentar soal cuaca, ada juga yang sekadar berbagi info kondisi lalu lintas, wkwk. Singkat, ringan, tapi entah kenapa membekas.
Awalnya Saya Kira Biasa Saja
Pertama kali kejadian, saya tidak terlalu memikirkannya. Mungkin beliau sedang iseng mengisi waktu di tengah macet, pikir saya. Wajar saja, di jalan memang kadang orang butuh bahan obrolan.
Kedua kali, saya masih menganggap itu hal yang lumrah. Tapi waktu sudah tiga, empat kali terjadi dalam satu bulan yang sama, saya mulai bertanya-tanya dalam hati, “Kok bisa sesering ini, ya?”
Refleksi Perjalanan yang Tidak Terduga
Belum selesai sampai di situ. Dari pertanyaan kecil itu, saya mulai menduga-duga alasannya.
Mungkin mereka adalah bapak-bapak yang rindu dengan anak-anaknya yang bekerja jauh dari rumah, dan saya kebetulan jadi orang yang mereka sapa. Atau, mungkin ini semacam pengingat untuk saya sendiri: bahwa di tengah hari-hari yang kadang terasa berat, masih banyak orang tua yang berjuang jauh lebih keras untuk menghidupi keluarga.
Dari momen itu, satu kebiasaan kecil tumbuh tanpa saya rencanakan. Setiap melihat orang berjualan di pinggir jalan, saya doakan dalam hati semoga dagangannya laris. Kalau ada driver ojol berhenti di dekat saya, saya doakan semoga orderannya penuh. Hal kecil yang tidak mereka tahu, tapi membuat saya sendiri merasa lebih damai di jalan.
Refleksi Perjalanan Mingguan Karawang-Bekasi yang Berubah
Rute Karawang ke Bekasi setiap Minggu sore, dan balik lagi ke Karawang setiap Jumat sore, sudah jadi bagian dari ritme mingguan saya. Saya kost di Bekasi, jadi perjalanan ini bukan sekadar pulang-pergi harian, tapi semacam perpindahan kecil setiap pekan. Dulu, saya masih sering ngedumel kalau ada yang bawa kendaraan serampangan atau macet terasa tidak ada ujungnya. Jujur, kadang emosi tidak jelas muncul begitu saja.
Tapi semenjak sapaan-sapaan itu, saya mulai mencoba melihat sisi lain dari setiap situasi. Orang yang buru-buru mungkin punya urusan yang tidak saya tahu. Macet yang panjang bisa jadi waktu untuk merenung. Refleksi perjalanan kecil seperti itu yang pelan-pelan mengubah cara saya merasakan hari.
Alhamdulillah, setiap perjalanan sekarang terasa lebih ringan. Bukan karena jalanannya berubah, tapi karena sudut pandang saya yang berubah.
Mungkin terlihat biasa, tapi kadang sapaan singkat dari orang yang tidak kita kenal bisa mengajarkan sesuatu yang tidak kita cari-cari sebelumnya.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.


