Kamis, 21 Mei 2026. Hari ini saya akhirnya kembali ke Unsika setelah cukup lama menghilang, enam bulan, tidak terasa. Bukan pulang kampus dalam arti harfiah, tapi benar-benar kembali ke Unsika untuk bimbingan skripsi yang sudah tertunda jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Dimention Dosen di Grup Bimbingan
Semuanya berawal dari sebuah mention di grup bimbingan. Dosen pembimbing saya, Pak Carudin, atau yang akrab disapa Pak Caca, tiba-tiba menyebut nama saya. Begitu notifikasi itu muncul, saya langsung keringat dingin. Progres skripsi saya memang sedang tidak bisa dibanggakan.
Pak Caca kemudian menanyakan kabar dan melanjutkan dengan kalimat yang sederhana tapi cukup menohok: “Masih inget jalan ke kampus, A? 😅” Lucu, tapi juga menjadi tamparan tersendiri.
Jujur, pada minggu itu saya memang sudah berencana untuk menghubungi beliau dan menjadwalkan bimbingan. Hanya saja ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, jadi saya tunda sehari dua hari, dan ternyata beliau lebih dulu mention saya di grup. Maafkan saya, Pak Caca. Hehe.
Setelah mendapat pesan itu, saya langsung bergerak. Menghubungi tim human capital kantor untuk meminta izin bimbingan dan WFH di hari itu, lalu menyiapkan draft skripsi yang memang masih belum rampung. Alhamdulillah, kantor saya selalu supportif soal urusan akademik, tidak pernah mempersulit. Bukan hanya soal izin bimbingan, tapi memang sudah menjadi kultur di sana untuk mendukung pertumbuhan timnya, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Saya selalu bersyukur bisa bekerja di lingkungan yang seperti ini.
Dua Sesi Bimbingan Skripsi dalam Satu Hari
Perjalanan dari rumah ke Unsika sekitar 50 menit dengan kondisi lalu lintas yang cukup lancar. Sesampainya di sana, ada perasaan yang sulit dijelaskan, aneh dan tidak biasa. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak ke sini, atau mungkin karena kali ini saya datang sendirian, tidak seperti dulu yang selalu ramai-ramai bersama teman-teman kelas.
Hari ini saya punya dua agenda bimbingan. Sesaat setelah tiba, saya langsung menghubungi dosen pembimbing pertama, Pak Didi, untuk menanyakan posisi beliau. Saya ingin waktu seefisien mungkin karena ini hari kerja dan masih ada beberapa hal yang harus saya cicil. Alhamdulillah, bimbingan dengan Pak Didi berjalan lancar.
Setelah bimbingan pertama selesai, waktu sudah memasuki Ashar. Saya bergegas ke masjid kampus yang jaraknya tidak jauh dari gedung fakultas, sekalian menunggu Pak Caca yang saat itu masih menjadi penguji seminar hasil mahasiswa lain.
Menunggu di Teras Masjid Unsika
Selesai sholat, saya konfirmasi ke Pak Caca bahwa saya sudah selesai dengan Pak Didi dan sedang menunggu. Beliau membalas masih menguji, jadi saya duduk sebentar di teras masjid.
Suasana teras masjid saat itu cukup ramai. Bukan hanya karena waktu sholat, di luar itu pun teras masjid memang menjadi tempat favorit mahasiswa untuk kerja kelompok. Luas, nyaman, dan teduh. Sore itu banyak mahasiswa yang duduk berkelompok dengan laptop dan buku masing-masing. Tidak satu pun yang saya kenal, dan dari penampilannya sepertinya sebagian besar mahasiswa baru.
Melihat mereka, tiba-tiba saya teringat masa-masa awal kuliah. Ketika saya dan teman-teman sekelas punya rutinitas yang tidak jauh berbeda, masuk kelas, cari makan bareng, kumpul untuk kerja kelompok, hampir setiap hari. Cukup lama saya duduk dengan pikiran yang melayang ke sana.
Teringat juga satu per satu nama teman sekelas, baik yang masih aktif berkomunikasi maupun beberapa yang sudah pindah kampus di tengah semester. Waktu memang cepat. Sekarang sudah jarang bertemu, masing-masing sudah punya kesibukan sendiri, dan kumpul lengkap dalam satu waktu rasanya seperti kemewahan. Semoga semuanya selalu sehat dan bahagia di mana pun berada.

Bimbingan Skripsi dengan Pak Caca
Tidak lama kemudian, Pak Caca menghubungi dan bilang sudah selesai menguji. Saya langsung bergegas ke ruangan beliau. Bimbingan berlangsung santai tapi tetap substantif, ada beberapa catatan dan arahan untuk perbaikan draft yang harus saya tindaklanjuti.
Ada rasa lega setelah bimbingan selesai, sekaligus sedikit malu mengingat sebenarnya banyak hal yang bisa saya kerjakan lebih cepat jika tidak terlalu santai dari awal. Tapi Pak Caca tetap sabar seperti biasanya. Beruntung sekali punya pembimbing yang seperti itu.

Setelah bimbingan selesai, saya pamit dan berjalan kembali ke parkiran. Karena besok harus tetap masuk kantor, saya memutuskan langsung kembali ke kost saja. Perjalanan ke kost sekitar satu setengah jam karena macet.
Hari ini cukup produktif. Kembali ke Unsika setelah sekian lama ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan, dua sesi bimbingan skripsi selesai dalam satu hari. Semoga bisa terus konsisten dari sini dan tidak perlu nunggu dimention dulu baru bergerak lagi. Hehe.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.



