Pagi yang Tidak Biasa

Kamis malam, 29 Januari 2026.
Perjalanan dari Bekasi Timur ke Rengasdengklok terasa cukup melelahkan karena sampai lebih lambat dari biasanya, yang disebabkan oleh hujan deras. Biasanya perjalanan bisa ditempuh sekitar satu jam sepuluh menit, tapi kali ini hampir dua jam.

Setelah sampai rumah, karena badan sudah terlalu capek di perjalanan, akhirnya saya memutuskan untuk langsung tidur setelah memeriksa pekerjaan esok hari. Kebetulan waktu sudah cukup malam, dan besok masih ada pekerjaan serta urusan ke kampus yang harus dijalani.

Pada dini hari Jumat, saya terbangun dan langsung dikagetkan dengan kondisi rumah yang sudah tergenang banjir setinggi mata kaki. Dalam keadaan setengah terbangun, saya mencoba mencerna informasi yang ada. Beberapa saat kemudian baru tersadar bahwa HP saya terjatuh dari tempat tidur, entah sejak jam berapa, dan sudah terendam air banjir.

Dengan sedikit kepanikan—karena HP menjadi pusat informasi saya—saya mencoba menyelamatkannya. Saya mengeringkan HP menggunakan kipas angin dan membaca beberapa artikel terkait cara penanganan HP yang terendam air, dengan harapan HP tersebut masih bisa menyala kembali, paling tidak sampai urusan pekerjaan dan kampus selesai.

Ilustrasi ponsel terendam. Kredit: CNET

Sesuai harapan, HP saya masih bertahan selama jam kerja dan urusan ke kampus. Namun setelah itu, layarnya menghitam dan akhirnya harus dibawa ke tempat servis. Memang lagi rezekinya mamang servis HP.

Belum selesai sampai di situ. Di tengah kepanikan menyelamatkan HP, saya baru menyadari bahwa tas saya juga ikut terendam banjir. Kepanikan pun bertambah, karena teringat ada beberapa barang elektronik di dalam tas, seperti charger, USB hub, dan lain-lain. Benar saja, barang-barang tersebut terendam banjir, termasuk buku yang sedang saya baca dan selalu saya simpan di dalam tas.

Untungnya, pada malam sebelumnya laptop saya sempat disimpan di atas meja. Kebetulan malam itu saya mengecek pekerjaan untuk keesokan hari, jadi laptop aman dan tidak ikut tergenang banjir.

Saya langsung mengeluarkan semua barang di dalam tas dan segera mengeringkannya, terutama charger laptop. Rasanya cukup berat kalau sudah mengeluarkan uang untuk servis HP, lalu harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli charger laptop yang harganya, bagi saya, cukup mahal. 😂

Menjelang jam kerja, saya segera menghubungi tim Human Capital untuk memberitahukan bahwa saya tidak bisa melakukan presensi kehadiran secara mandiri melalui HP, karena HP saya masih mati. Begitu juga pada jam pulang kerja. Terima kasih untuk pengertiannya, tim Human Capital.

Hari itu terasa capek, meskipun masih pagi. Namun saya bersyukur tetap bisa menjalani hari sebagaimana mestinya dan masih bisa mengirimkan beberapa pekerjaan yang harus dikirimkan, meskipun sambil bekerja dengan kondisi kaki terendam air.

Ilustrasi Kaki Tergenang Banjir

Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini adalah pentingnya mempersiapkan dan menyimpan barang-barang di tempat yang aman. Mungkin jika malam itu saya menyimpan tas di tempat seperti biasanya, kejadian ini tidak akan terjadi.

Belakangan ini masih sering terjadi pergantian cuaca yang cukup labil, selalu hati hati dan jaga kesehatan.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca, tunggu cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *