Kesempatan yang Tak Pernah Terbayangkan

Suatu hari, perusahaan tempat saya bekerja yaitu PT Aktiva Kreasi Investama yang merupakan sister company dari PT Excellent Infotama Kreasindo, memberitahukan bahwa setiap staf diwajibkan untuk memiliki paspor. Mendengar hal itu, jujur, saya cukup excited. Bukan hanya karena akan punya paspor, tapi juga karena saya akan mendapatkan pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tujuan dari kebijakan ini bukan sekadar formalitas. Kami diminta untuk belajar mengetahui prosesnya sendiri, mempersiapkan persyaratannya sendiri, dan mengurus pembuatannya secara mandiri. Artinya, ini bukan hanya soal dokumen, tapi soal kesiapan dan tanggung jawab pribadi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu hari pembuatan paspor. Bagi saya, ini adalah momen penting karena untuk pertama kalinya saya mengurus dokumen resmi sepenuhnya sendiri.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu hari pembuatan paspor. Bagi saya, ini adalah momen yang terasa istimewa, karena sebelumnya saya sama sekali tidak pernah membayangkan akan sampai di titik membuat paspor.

Sebelum menentukan jadwal, saya sempat mempertimbangkan cukup lama untuk membuatnya di Kantor Imigrasi Karawang atau Bekasi. Setelah dipikirkan beberapa kali, saya memutuskan mengambil tanggal 13 Februari di Kantor Imigrasi Karawang.

Pemilihan Karawang bukan tanpa alasan. Keputusan ini saya ambil karena mempertimbangkan pengalaman sebelumnya ketika mengurus administrasi yang kadang ada saja kendalanya dan mengharuskan kembali ke kantor administrasi setempat. Jadi saya merasa lebih aman jika mengurusnya di wilayah sendiri.

Pada hari itu saya bangun lebih awal. Saya segera bersiap dengan harapan bisa datang lebih pagi dan selesai lebih cepat, karena masih ada pekerjaan kantor juga yang menunggu. Namun di tengah perjalanan, hujan turun cukup deras. Saya langsung memakai jas hujan dan memperlambat laju motor karena jarak pandang cukup terbatas. Untungnya saya memang berangkat lebih awal, jadi masih ada spare waktu. Jalanan pagi itu cukup lancar dan saya sampai di Kantor Imigrasi Karawang dengan selamat.

Saya datang dengan bermodal tanya-tanya pengalaman orang sekitar dan membaca beberapa artikel di internet. Hal pertama yang saya pikirkan ketika sampai adalah, orang mana yang bisa saya tanyai untuk proses pembuatan paspor. Dari dulu saya memang cukup pemalu dan agak takut mengurus hal-hal seperti ini sendiri. Biasanya selalu ditemani ibu. Jadi ini bisa dibilang pengalaman baru mengurus administrasi sepenuhnya sendiri.

Dengan semua berkas yang sudah saya siapkan, saya mencoba berjalan dengan percaya diri dan langsung bertanya ke resepsionis terkait pembuatan paspor. Saya diberi nomor antrian dan diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu.

Rasa deg-degan itu muncul lagi ketika melihat pintu yang tertutup dan dari celah bawahnya terlihat banyak orang sedang mengantre. Dengan sedikit ragu, saya tetap melangkah masuk dan kembali bertanya harus melakukan apa. Petugas mengatakan saya hanya perlu menunggu sampai nomor dipanggil.

Ruang Tunggu Verifikasi Berkas

Kebetulan di hari itu kantor sedang ada sosialisasi DPLK. Sambil menunggu, saya mengikuti Zoom sosialisasi tersebut. Di sela-sela itu saya juga memperhatikan orang-orang yang dipanggil lebih dulu, mencoba memahami alurnya supaya nanti tidak bingung ketika giliran saya tiba. Nomor antrian saya 54, dan saat itu baru sampai nomor 13.

Setelah menunggu cukup lama dan menghabiskan beberapa lembar ebook yang saya baca, akhirnya nomor saya dipanggil ke customer service. Karena masih canggung, untuk mengurangi grogi, saya membuka pembicaraan dengan mengucapkan, “Selamat pagi, Pak.”

Di tahap ini hanya dilakukan pengecekan berkas dan beberapa pertanyaan dasar, seperti apakah sebelumnya sudah punya paspor atau belum, serta rencana pembuatan paspor ini untuk apa dan tujuan ke negara mana. Semua pertanyaan bisa saya jawab dengan tenang. Alhamdulillah prosesnya cukup cepat. Setelah selesai, saya bertanya lagi, “Setelah ini apa ya, Pak?” dan diberi tahu untuk menunggu sesi wawancara dan foto dokumen.

Antrean wawancara dan foto ini terasa lebih lama. Mungkin karena setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda, sehingga prosesnya tidak bisa cepat. Saya kembali melanjutkan membaca dan sesekali melamun mencari ide pekerjaan.

Karena mulai bosan, saya iseng membaca tulisan yang ada di map yang diberikan petugas. Awalnya tidak ada yang terasa aneh. Sampai di baris terakhir tertulis “TIDAK BERWARNA PUTIH.”

Saya langsung terdiam.

Hari itu saya menggunakan kemeja putih, karena dari informasi yang saya dapat sebelumnya, foto paspor harus menggunakan pakaian warna putih. Seketika rasa panik muncul lagi. Saya melihat sekeliling dan memang benar, tidak ada yang memakai pakaian putih polos seperti saya.

Saya mulai bingung harus bagaimana. Kalau pulang untuk mengganti baju, jaraknya cukup jauh dan nomor antrean saya sudah mendekati giliran. Untungnya saya memakai outer berwarna hitam. Dalam hati saya, saya berharap itu bisa menyelamatkan situasi.

Ketika nomor saya dipanggil, dengan perasaan grogi saya masuk ke ruang wawancara dan langsung bertanya, “Ini tidak apa-apa ya, Pak, saya pakai kemeja putih?”

Petugas menjawab tidak apa-apa, nanti bisa pakai jaket yang saya kenakan. Lega rasanya. Kalau tidak, mungkin harus cari solusi lain yang cukup merepotkan.

Map Berkas Kantor Imigrasi

Di sesi wawancara, saya ditanya lagi untuk apa pembuatan paspor ini, nanti akan pergi dengan siapa, tujuannya ke mana. Saat itu saya sebenarnya belum punya rencana pasti akan ke mana, jadi saya jawab saja Singapura karena paling dekat. Ditanya juga apakah ada orang yang akan ditemui di sana dan beberapa pertanyaan lainnya. Entah memang itu sudah prosedur standar atau karena saya terlihat kurang meyakinkan, haha.

Wawancara berlangsung cukup lama hingga akhirnya saya diberi tahu bahwa paspor bisa diambil hari Senin, 23 Februari. Namun, saya memilih opsi untuk dikirim saja karena lebih praktis. Apalagi nanti memasuki bulan puasa dan cuaca di Karawang cukup panas, jadi menurut saya itu pilihan yang paling efisien.

Ruang Tunggu Wawancara dan Foto

Proses pembuatan paspor pun selesai. Saya merasa cukup lega karena ternyata saya bisa mengurus hal-hal seperti ini sendiri. Meskipun sempat grogi di beberapa momen, tidak apa-apa, namanya juga pengalaman pertama.

Dari pengalaman ini saya juga belajar bahwa informasi yang kita terima tidak boleh langsung ditelan mentah-mentah. Kita perlu mengecek kembali dan memastikan bahwa informasi tersebut benar-benar akurat dan relevan. Hal kecil seperti warna pakaian saja bisa membuat panik jika tidak dipastikan dengan baik.

Next-nya adalah kapan paspor ini akan digunakan, hehe. Semakin penasaran dengan alur hidup yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya bayangkan akan seperti ini.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *